Mengenang Ahmad Yani Di Hari Pahlawan 2021

Ahmad Yani
Images by: freepik.com
Daftar Mitra TrawlBens

Trawlbens – Ahmad Yani merupakan seorang pria yang lahir pada 19 Juni tahun 1922 di Purworejo, Jawa Tengah. Ia lahir dari keluarga Wongsoredjo, dimana keluarga nya merupakan orang yang bekerja di sebuah pabrik gula yang saat itu milik seorang kebangsaanBelanda.

Saat menginjak tahun 1927, Yani memilih untuk pindah ke Batavia bersama keluarganya, di mana ayahnya saat itu mulai bekerja untuk seorang jenderal dari Belanda. Saat di Batavia, Yani menamatkan pendidikannya dari SD hingga SMP.

Perjalanan Karir Ahmad Yani

Beranjak ke tahun 1940, Yani lulus dari SMA danmemilih jalan untuk mengabdi pada kelompok Tentara Hindia Belanda yang merupakan pemerintah kolonial.

Saat itu Ia belajar mengenai geografi militer yang dilaksanakan di Malang, Jawa Timur, tetapi pelatihannya terganggu oleh kedatangan para pasukan Jepang yang menduduki daerah tersebut pada tahun 1942. Pada saat yang sama, akhirnya Yani dan keluarganya memutuskan untuk kembali ke Jawa Tengah.

Hingga Pada tahun 1943, ia memilih untuk bergabung Kembali dengan Tentara Peta (Pembela Tanah Air) yang didukung oleh pihak Jepang dan menyelesaikan pelatihan lebih lanjut di Magelang.

Setelah ia akhirnya menyelesaikan pelatihan ini, Yani melamar untuk mengikuti pelatihan untuk menjadi pemimpin peleton Peta dan akhirnya ia dipindahkan ke Bogor, Jawa Barat untuk pelatihan selanjutnya. Hingga akhirnya Ia kemudian dikirim kembali ke Magelang sebagai pelatih.

Setelah Indonesia meraih kemerdekaanya, Yani memilih untuk bergabung dengan tentara muda Republik untuk melawan Belanda. Dalam beberapa bulan pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan, Yani membentuk pasukan batalyon dengan menetapkan dirinya sebagai komandan, ia membawa kemenangan bagi Inggris di Magelang.

Yani dengan pasukannya kemudian berhasil melindungi Magelang dari Belanda dan disebut sebagai “Penyelamat Magelang” dalam upaya Belanda untuk menaklukkan kota tersebut dan berakhir gagal.

Sorotan penting lain dari karir Yani selama periode ini adalah serangkaian serangan gerilya untuk mengalihkan perhatian Belanda pada awal tahun 1949.

Yani diperintahkan dan dipindahkan ke Tegal, Jawa Tengah, setelah akhirnya kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda. Pada tahun 1952 ia kembali dipanggil untuk membrantas Darul Islam, yang merupakan salah satu kelompok pemberontak yang ingin mendirikan teokrasi di Indonesia. Untuk menghadapi kelompok pemberontak ini.

Untuk menjalankan misi ini Yani membentuk unit khusus yang disebut Banteng Raiders. Keputusan untuk memanggil Yani untuk melawan kelompok tersebut membuahkan hasil, dan para pasukan kelompok darul islam di Jawa Tengah dapat dikalahkan satu demi satu selama tiga tahun berikutnya.

Waktu pun berjalan hingga Desember 1955, Yani pergi ke Amerika Serikat untuk mengenyam pendidikan di Komando and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas. Pada tahun 1956, Yani pindah Kembali ke Dewan Angkatan Darat Jakarta dan menjadi anggota staf Abdul Harris Nasution.

Di Mabes AD, Yani ditetapkan menjadi Wakil Kepala Staf Bidang Organisasi dan Kepegawaian setelah ia menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat.

Pada bulan Agustus 1958, ia memerintahkan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Barat untuk beroperasi pada tanggal 17 Agustus. Pasukannya berhasil merebut kembali Padang dan Bukittinggi, dan dengan keberhasilan ini ia menjadi Wakil Direktur Kedua Angkatan Darat pada 1 September 1962, danmenggantikan Jenderal Nasution pada 13 September.

Prestasi Ahmad Yani Selama Menjadi Anggota Militer

Di bawah ini adalah beberapa prestasi Achmad Yani dalam karir militernya. Achmad Yani adalah salah satu unit yang berhasil merebut senjata Jepang di Magelang.

Pada saat invasi militer pertama, Ahmad Yani diangkat menjadi Komando TKR Purworejo, dan saat itu pasukannya berhasil menahan Belanda di daerah Pingit.

Pada saat Invasi Militer Kedua, Ahmad Yani dipercaya sebagai Pangdam II yang meliputi Daerah Pertahanan Kedua. Ahmad Yani adalah seorang letnan di Tegal, Jawa Tengah, ketika Belanda memberikan kedaulatan kepada Indonesia.

Dia diberdayakan untuk membentuk unit khusus yang disebut benteng Raiders. Tim tersebut bertugas untuk memberhentikan sementara tim DI/TII.

Saat kejadian tersebut Sebanyak enam jenderal dan satu perwira TNIAD tewas dan gugur dalam peristiwa gerakan 30 September 1965 (G30SPKI).

Mereka dibunuh oleh para kelompok tersebut secara brutal oleh anggota G30S. menjelang akhir hayatnya Mereka disiksa, ditembak dan dibuang ke sumur tua di Lubanbuaya di Pondokgede, Jakarta Timur.

Keenam jenderal tersebut adalah Mayjen Ahmad Yani, Mayjen Raden Soeprapto, Mayjen Mas Tiltdalmo Haryono, Mayjen Siswand Palman, Mayjen Donald Isaac Panjaitan, Mayjen Stoyo Siswodi Harjo , dan Pierre. Itu adalah Mayor Jenderal Andreas Tendean.

Sejak peristiwa berdarah di rumah Jenderal Ahmad Yani di Jakarta Leban D58, Jakarta Pusat, pada suatu pagi tanggal 1 Oktober 1965. Keluarga Jenderal Ahmad Yani tidak pernah tinggal di rumah itu lagi. Pada tahun 1966, rumah itu digunakan sebagai Museum Sasmitaloka pahlawan revolusioner Ahmad yani.

Selamat Hari Pahlawan, Jangan Lupa kirim barang lewat Trawlbens!

Berita sebelumyaJasa Ekspedisi Batam Ke Kalimantan Kirim 10kg Gratis Pickup
Berita berikutnyaJasa Ekspedisi Batam Ke Jawa Kirim 10kg Gratis Pickup