2 Bacaan Niat Sholat Maghrib Lengkap

Niat Sholat Maghrib
Images by: middleeastmonitor.com
Daftar Mitra TrawlBens

Trawlbens – Niat sholat maghrib tidak termasuk ke dalam rangkaian sholat maghrib. Namun, mengetahui niat sholat sebelum takbiratul ihram memiliki banyak manfaat terutama bagi orang yang was-was.

Terkait tata cara pelafalan niat sholat sendiri ada aturannya, apakah dilafalkan dengan jelas, lirih, atau dalam hati.

Pelaksanaan Sholat Maghrib

Sholat maghrib adalah salah satu sholat wajib lima waktu yang harus dilaksanakan kaum muslimin. Sholat maghrib terdiri dari tiga rakaat dan dikerjakan mulai dari matahari terbenam hingga hilangnya mega merah.

Durasi waktu sholat maghrib termasuk yang paling pendek. Di Indonesia, durasi waktu sholat maghrib umumnya hanya 1 jam saja. Terkait rukun pelaksanaan sholat maghrib sebenarnya sama saja dengan rukun sholat lima waktu yang lain yang diawali oleh takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Duduk tasyahud awal dilakukan pada rakaat kedua sholat maghrib sebagaimana pada sholat empat rakaat yang lain. Sementara duduk tasyahud akhir dilakukan pada rakaat ketiga kemudian salam. Berikut urutan rukun sholat:

1. Berdiri bagi yang mampu

2. Takbiratul ihram

3. Membaca surah Al Fatihah di semua raka’at

4. Ruku dan thuma’ninah

5. I’tidal dan thuma’ninah

6. Sujud dan thuma’ninah

7. Duduk di antara dua sujud dan thuma’ninah

8. Tasyahud akhir dan duduk tasyahud

9. Salam

Niat Sholat Maghrib Arab, Latin dan Artinya Lengkap

Terkait kalimat niat sholat maghrib sendiri dibagi berdasarkan sholat yang dilaksanakan apakah sholat tersebut munfarid (sendirian) atau sholat yang dilakukan berjamaah bersama imam.

1. Niat Bacaan Sholat Maghrib Berjamaah

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.

Ushalli fardhol maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa,an makmuman/imaman lillaahi ta’aala.

Artinya: Saya melakukan shalat fardhu maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.
Jika Anda berposisi sebagai imam dalam sholat, maka ucapkan “imaman lillahi ta’ala” sementara jika posisi Anda sebagai makmum sholat, maka ucapkan “makmuman lillahi ta’ala”.

2. Niat Bacaan Sholat Maghrib Munfarid (Sendirian)

أُصَلِّى فَرْضَ المَغْرِبِ ثَلاَثَ رَكَعاَتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى.

Ushalli fardhol maghribi tsalaatsa raka’aatin mustaqbilal qiblati adaa,an lillaahi ta’aala.

Artinya: Saya melakukan shalat fardhu maghrib sebanyak tiga rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya karena Allah Ta’ala.

Jika sholat dilakukan sendirian (munfarid), maka tidak perlu mengucapkan “makmuman lillahi ta’ala”.

Cara Melafalkan Niat Sholat Maghrib yang Benar

Setelah mengetahui lafal niat sholat maghrib di atas, maka hal berikutnya yang harus dipahami adalah bagaimana cara melafalkan niat tersebut.

Hal ini karena banyak dari kaum muslimin yang bingung apakah harus melafalkan niat secara lirih, jelas atau cukup dalam hati saja. Berikut penjelasan dari para ulama:

1. Niat Cukup di Dalam Hati Saja

Terkait niat, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam telah menyampaikan dalam hadist yang sangat termasyhur bahwa sesungguhnya setiap amal perbuatan tersebut tergantung pada niatnya. Maka setiap orang tersebut akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.

Jika orang tersebut berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka orang tersebut memperoleh pahala hijrah menuju Allah dan juga Rasul-Nya.

Oleh karena itu, niat itu sebenarnya perkara hati, karena hanya orang itu sendiri yang tahu apakah sholat maghrib yang dilakukannya itu untuk Allah atau untuk yang lain.

Menurut pendapat Imam As-Syafi’iy, niat untuk melaksanakan sholat sudah mulai dihadirkan sejak seseorang mengangkat tangannya untuk bertakbir.

Niat cukup diucapkan dalam hati untuk mendatangkan kesadaran jiwa bahwa akan melaksanakan sholat tanpa harus dilafalkan secara jahr (jelas) atau sirr.

Jumhur ulama besar lainnya juga berpendapat hal yang demikian, yakni niat cukup dihadirkan dalam hati saja tidak perlu dilisankan.

Ini adalah pendapat yang utama. Lantas, bagaimana dengan mereka yang melafalkan niat baik secara jahr dan sirr? Hal tersebut juga akan dibahas di bawah ini.

2. Niat Boleh dalam Bahasa Apapun

Allah Maha Mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak. Allah juga Maha Mengetahui setiap bahasa hamba-hambanya. Oleh karena itu, bahasa untuk mengucapkan niat sebenarnya dibebaskan tidak harus dalam bahasa Arab.

Anda bisa menghadirkan niat untuk sholat maghrib dalam bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Melayu atau bahasa apapun yang Anda kuasai.

Menghadirkan niat tidak dalam bahasa Arab tidak akan membuat sholat menjadi batal karena sholat baru dimulai sejak takbiratul ihram dan berakhir ketika salam.

Sehingga hanya bacaan di dalam sholat sajalah yang sudah dicontohkan secara pasti oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam dan harus dalam bahasa Arab.

Jika bacaan dalam sholat Anda tidak dalam bahasa Arab dan di luar dari yang dicontohkan Rasululllah, maka sholat tersebut batal.

3. Kalimat Niat Sholat

Tidak ada ketentuan yang pasti mengenai lafadz niat sholat maghrib yang baku, oleh karena itu Anda dibebaskan untuk memilih apakah ingin menghapalkan niat sholat sama dengan yang ada di atas atau versi Anda sendiri.

Misalnya jika Anda tidak ingat lafal di atas, Anda cukup menghadirkan niat seperti berikut ini “Saya berniat sholat maghrib karena Allah ta’ala”. Poin terpenting dalam niat sholat adalah Anda harus menyadari bahwa sholat tersebut dilakukan memang untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja bukan yang lain.

Bolehkah Melafadzkan Niat Sholat Maghrib?

Lantas, bagaimana jika ingin melafadzkan niat sholat apakah dibolehkan? Terkait hal ini kita bisa melihat pandangan dari para ulama madzhab seperti berikut ini:

1. Pendapat Madzhab Al-Syafi’iyyah dan Hanabillah

Menurut jumhur pendapat ulama bermadzhab Al-Syafi’iyyah serta jumhur ulama bermadzhab Imam Ahmad bin Hambal, bahwa melafadzkan niat sholat merupakan Sunnah.

Hal ini disandarkan pada alasan bahwa dengan melafadzkan niat sebelum mengucapkan takbiratul ihram dapat mengingatkan hati yang lalai.

Terkait pendapat para ulama mengenai hal ini bisa dilihat dari kitab Mughni Al Muhtaj. Di kitab Mughni Al Muhtaj disampaikan bahwa melafadzkan apa yang diniatkan tersebut disunnahkan supaya membantu hati untuk tenang dan fokus pada Pencipta.

Melafadzkan niat juga dapat membantu orang dengan penyakit was-was atau ragu-ragu agar lebih fokus dan menghilangkan rasa was-was tersebut.

2. Pendapat Madzhab Al Malikiyyah

Jumhur pendapat ulama madzhab Al Malikiyyah berpandangan bahwa melafadzkan niat baik secara sirr dan jahr sebelum takbiratul ihram menyalahi keutamaan dalam sholat.

Hanya saja melafadzkan niat ini bisa menjadi sunnah bagi orang yang mempunyai penyakit was-was karena dapat mendatangkan khusyu’.

Terkait pendapat ini bisa dibaca di kitab Hasyiyah Al Dusuqi. Melafadzkan niat memang menyelisihi yang lebih utama sehingga lebih baik tidak dilafadzkan di mulut.

Namun, melafadzkannya juga tidak berdosa bahkan bisa menjadi baik bagi orang dengan penyakit was-was.

3. Pendapat Madzhab Al Hanafiyah

Jumhur pendapat ulama madzhab Al Hanafiyah berpandangan bahwa hukum melafadzkan niat baik secara sirr atau jahr adalah bid’ah.

Namun, bid’ah yang dimaksud bukan bid’ah tercela melainkan bid’ah yang baik karena lafadz niat akan sangat membantu menghadirkan khusyu’ bagi orang dengan penyakit was-was. Terkait pendapat ini bisa dibaca di kitab Al Asybah wa Al Nazoir halaman 41.

Berdasarkan pendapat para ulama mu’tabar di atas bisa disimpulkan bahwa Anda bebas menghadirkan niat sholat maghrib baik menggunakan bahasa Arab atau tidak.

Niat juga boleh di dalam hati ataupun dilafadzkan terutama jika Anda memiliki penyakit ragu-ragu atau was-was.

Berita sebelumyaJasa Ekspedisi Jakarta Pekanbaru Murah Hanya Rp 2.500/kg
Berita berikutnyaJasa Ekspedisi Jakarta Yogyakarta Murah Hanya Rp 2.000/kg