2 Bacaan Niat Sholat Subuh Lengkap Penjelasannya

Niat Sholat Subuh
Images by: Replubika.co.id
Daftar Mitra TrawlBens

Trawlbens – Niat sholat subuh sebenarnya tidak termasuk ke dalam rukun sholat sehingga jika tidak dilafadzkan tidak menjadi pembatal sholat.

Namun, mengetahui niat sholat diharapkan dapat membantu Anda agar bisa lebih khusyuk saat memulai sholat subuh.

Terkait Sholat Subuh

Sholat subuh adalah sholat dua rakaat yang merupakan salah satu dari lima sholat wajib yang harus dikerjakan oleh setiap umat muslim.

Waktu sholat subuh yang utama dimulai sejak terbit fajar shadiq, yaitu fajar kedua hingga berakhirnya gelap malam. Waktu sholat subuh berakhir hingga terbitnya matahari.

Karena begitu pentingnya sholat subuh, Allah memberikan keringanan bagi hambanya yang kesiangan untuk tetap dapat mengerjakan sholat subuh.

Namun, tentu saja hal ini hanya berlaku jika hamba tersebut tidak menyengaja untuk melewatkan sholat subuh dan keterlambatan hanya terjadi sesekali waktu saja.

Ada banyak keutamaan yang diberikan Allah bagi hambanya yang menjalankan sholat subuh. Di dalam surah Al Isra ayat 78, Allah memerintahkan manusia untuk mendirikan shalat sesudah tergelincirnya matahari hingga gelap malam serta dirikan pula sholat subuh.

Shalat subuh sesungguhnya disaksikan para malaikat. Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam menjelaskan makna ayat ini.

Beliau menjelaskan bahwa shalat subuh akan disaksikan para malaikat yang bertugas pada waktu malam serta malaikat yang bertugas di waktu siang.

Rukun pada sholat subuh seperti halnya rukun pada sholat wajib lainnya yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam. Anda juga wajib membaca surat Al Fatihah di setiap rakaatnya karena sholat tanpa Al Fatihah dianggap tidak sah sholatnya.

Niat Sholat Subuh Latin, Arab dan Arti Lengkap

Niat sholat subuh yang lumrah kita kenal dibagi berdasarkan sholatnya apakah berjamaah atau munfarid (sendirian). Berikut bacaan niat saat sholat subuh:

1. Niat Bacaan Sholat Subuh Berjamaah

أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لله تَعَالَى.

Ushalli fardhos shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa,an makmuman/imaman lillaahi ta’aala.

Artinya: Saya melakukan shalat fardhu subuh sebanyak dua rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya (menjadi makmum/imam) karena Allah Ta’ala.

2. Niat Bacaan Sholat Subuh Munfarid

أُ أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى.

Ushalli fardhos shubhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adaa,an lillaahi ta’aala.

Artinya: Saya melakukan shalat fardhu subuh dua rakaat dengan menghadap kiblat, pada waktunya karena Allah Ta’ala.

Bagaimana Cara Melafalkan Niat Sholat Subuh?

Sebagaimana yang tertera dalam hadist bahwa amalan sesuai dengan niatnya. Maka kita sebagai muslim tentu ingin mengetahui bagaimana tata cara melafalkan niat sholat subuh yang benar. Berikut tata cara yang dirangkum dari para ulama muktabar:

1. Niat Cukup dari Hati Tanpa Dilisankan

Menurut pandangan Imam As-Syafi’ie, niat dihadirkan oleh seseorang yang akan sholat bersamaan dengan takbir. Niat cukup disampaikan di dalam hati saja tanpa harus dilafadzkan di mulut baik secara sirr (berbisik) ataupun jahr (jelas).

Ulama-ulama besar menjelaskan bahwa niat cukup di dalam hati saja tanpa dilisankan sudah cukup. Sehingga ketika seseorang mulai mengangkat tangan dan mengucapkan takbir dengan jelas, maka niat sudah dihadirkan di dalam hatinya.

Saat niat sudah dihadirkan di dalam hati, maka seseorang haruslah memfokuskan perhatiannya pada sholatnya dan menjauhkan pikirannya dari hal-hal selain sholat.

2. Niat Tidak Harus dalam Bahasa Arab

Niat juga sebenarnya tidak harus disampaikan dalam bahasa Arab karena Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sehingga apabila Anda tidak hapal bacaan niat di atas dalam bahasa Arab sebenarnya tidak masalah. Anda dapat melafalkan niat dalam bahasa Indonesia di hati.

Melafalkan niat dalam bahasa Indonesia tidak membatalkan sholat karena sholat baru dimulai setelah takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Hanya bacaan di dalam sholat sajalah yang harus disampaikan dalam bahasa Arab sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wa salam.

Bacaan di dalam sholat yang dimaksud dihitung semenjak takbiratul ihram hingga salam, maka semuanya harus dalam bahasa Arab. Jika seseorang sholat menggunakan bahasa yang berbeda, maka sholatnya batal.

3. Kalimat Niat Bebas yang Terpenting Maknanya

Kalimat niat sholat subuh yang dilafalkan juga sebenarnya bebas tidak harus berurutan seperti yang dicontohkan di atas. Misalnya Anda cukup melafalkan niat sholat dalam hati untuk sholat subuh seperti di bawah ini (dalam bahasa Indonesia):

“Saya berniat sholat Subuh dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Hal paling penting adalah Anda memahami bahwa sholat yang Anda lakukan tersebut memanglah ditujukan untuk Allah subhanahu wa ta’ala semata dan bukan untuk hal lain.

Memantapkan niat sebelum shalat akan dapat membantu menyadarkan pikiran seseorang dari hal dunia untuk terfokus pada Allah.

Hukum Melafadzkan Niat Sholat Subuh Baik Secara Jahr dan Sirr

Rasulullah shalallahu alaihi wa salam sendiri memang tidak pernah mencontohkan secara pasti bagaimana kalimat niat dalam sholat subuh.

Oleh karena itu, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum melafadzkan niat sholat subuh baik secara jahr dan sir. Berikut beberapa rangkuman pendapat ulama:

1. Pendapat Madzhab Al Hanafiyah

Menurut jumhur pendapat madzhab al Hanafiyah, melafalkan (mengucapkan melalui mulut baik jahr dan sir) niat sholat sebelum takbir merupakan bid’ah.

Namun, ulama berpendapat bahwa melafalkan niat tersebut adalah bid’ah yang baik terutama untuk orang yang memiliki penyakit was-was atau ragu-ragu.

Hal ini bisa dilihat dari kitab Al Asybah wa Al Nazoir halaman 41 dituliskan bahwa yang menjadi pilihan madzhab terkait melafalkan niat sebelum sholat adalah mustahabb atau disukai. Namun, hal ini berbeda untuk nadzar karena dalam nadzar tidak cukup hanya niat tapi memang harus dilafadzkan jelas.

2. Pendapat Madzhab Al Malikiyyah

Menurut pendapat madzhab Al Malikiyyah, melafalkan niat sholat sebelum takbiratul ihram menyalahi keutamaan dalam sholat.

Namun, hukum melafalkan niat sebelum sholat bisa menjadi sunnah terutama untuk mereka yang memiliki penyakit was-was.

Hal ini tertera di dalam kitab Hasyiyah Al Dusuqi dimana disebutkan bahwa melafalkan niat sebelum sholat itu menyelisihi yang lebih utama karena yang lebih utama adalah tidak dilafalkan.

Namun, hukum ini dikecualikan untuk mereka yang memiliki sifat ragu-ragu karena melafalkan niat bagi mereka justru dapat menghilangkan keragu-raguan.

3. Pendapat Madzhab Hanabillah dan Al-Syafi’iyyah

Menurut kesepakatan jumhur ulama bermadzhab Imam Syafi’iy dan ulama pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hambal, hukum melafalkan niat adalah Sunnah.

Hal ini dikarenakan melafalkan niat sebelum takbiratul ihram akan dapat mengingatkan hati yang tengah lalai sehingga khusyu’ dalam sholatnya.

Terkait hal ini bisa dicek di dalam kitab Mughni Al Muhtaj dimana dikatakan bahwa disunnahkan untuk melafalkan apa yang diniatkan sebelum bertakbir untuk membantu hati agar tenang dan fokus pada sang Pencipta. Selain itu, melafalkan niat juga bisa membantu menghilangkan rasa was-was atau ragu.

Secara umum, para ulama berpendapat bahwa hukum melafalkan niat (di mulut) dapat menjadi dianjurkan untuk mereka yang memiliki penyakit was-was.

Jika dengan melafalkan niat sebelum sholat akan membantu seseorang lebih khusyu’, maka pelafalan niat tersebut boleh dilakukan.

Dapat disimpulkan bahwa niat sholat subuh termasuk ke dalam amalan hati yang tidak perlu dilafalkan di mulut baik secara sirr dan jahr.

Namun, bagi mereka yang memiliki penyakit was-was, melafalkan niat dianjurkan terutama jika dapat menyingkirkan penyakit was-was dan membuat pikiran lebih khusyuk.

Berita sebelumyaJasa Ekspedisi Jakarta Palangka Raya Murah, Kirim 10kg Gratis Jemput
Berita berikutnyaJasa Ekspedisi Jakarta Palembang Murah Hanya Rp 2.000/kg