Aplikasi Cargo Indonesia Trawlbens

Ramalan Ekonomi 2023: Pengusaha hingga Pekerja Harus Siap-Siap

2022 telah dilewati dan akan membuka pintu baru terhadap tahun 2023. Tahun 2022 adalah sebuah tahun dimana dimulainya perang antara Rusia dan Ukraina hingga tahap normalisasi dan pemulihan dunia terhadap dampak dari pandemi Covid-19.

Tentunya perekonomian dunia pada tahun ini sedang berada dalam tahap pemulihan. Kendati demikian, kita tidak akan mengetahui apa yang akan terjadi pada tahun 2023 terutama dalam bidang ekonomi.

Berikut adalah ramalan yang akan terjadi di dunia perekonomian global pada tahun 2023.

Inflasi dan Suku Bunga

suku bunga bank

Diramalkan pada tahun 2023, akan terjadi penurunan inflasi global secara besar-besaran. IMF memprediksikan bahwa inflasi global akan menyentuh angka sebesar 6.5% pada tahun 2023. Angka tersebut turun dibandingkan tahun 2022, yaitu sebesar 8.8%

Negara yang tergolong kepada negara berkembang akan memiliki dampak yang lebih kecil, yaitu sebesar 8.1% pada tahun 2023.

Alexander Tziamalis, dosen ekonomi di Universitas Sheffield Hallam saat berwawancara dengan Al-Jazeera, menyatakan bahwa probabilitas terhadap inflasi akan tetap lebih tinggi sebesar 2% yang ditetapkan mayoritas bank sentral Barat sebagai tolak ukur mereka.

Tziamalis menambahkan lagi bahwa energi dan bahan baku akan tetap memiliki harga yang tinggi untuk beberapa waktu. Dampak lainnya dapat berupa impor yang lebih mahal, kekurangan tenaga kerja di negara Barat, produksi di Barat lebih mahal, dan akan dicarikan solusi untuk menjadi transisi pemerangan terhadap ancaman inflasi.

Resesi

resesi 2023
image by: pexels

2023 akan dijalani dengan stabilisasi harga namun pertumbuhan ekonomi akan menurun seiring dengan meningkatnya suku bunga. IMF memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh sebesar 2.7% pada 2023, turun dari 3.2% pada tahun 2022.

Ekonomi memiliki perasaan yang pesimis dan lebih mempercayai potensi besar terhadap resesi global besar akan terjadi pada tahun 2023. Kepala ekonomi IMF memperingatkan pada tahun 2023 publik akn merasakan kombinasi dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, kenaikan harga, serta kenaikan suku bunga.

Baca Juga: 5 Tips Dalam Memilih Rekening Tabungan Untuk Anak

Pembukaan Kembali China

Artikel kuil di china
image by: pexels

Belakangan ini China telah membuka kembali negaranya setelah lama memperketat negaranya dengan membatasi pergerakan masyarakat karena dampak dari Covid-19. Perbatasan internasional akan dibuka kembali pada 8 Januari 2023.

Dampak pembukaan perbatasan internasional itu akan membuka kesempatan kembali terhadap ekspor barang dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Namun, dunia medis di China saat ini dibanjiri oleh pasien dan kewalahan untuk menangani jenazah pada kamar mayat dan krematorium. Beberapa ahli medis juga meramalkan bahwa tahun depan akan terdapat banyak sekali kematian hingga munculnya virus varian baru.

Baca Juga: 11 Daftar Makanan Khas Pontianak Paling Populer

Bangkrut Massal

Artikel dompet keuangan kosong
image by: pexels

Kehancuran ekonomi yang telah ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 telah menurun di berbagai negara pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini disebabkan oleh pemerintah yang menerbitkan berbagai macam peraturan untuk menjaga kestabilitasan negaranya.

Namun hal ini akan kembali terhadi pada tahun 2023, terutama di tengah-tehan kenaikan harga energi dan suku bunga. Alianz Trade memberikan perkiraan bahwa kebangkrutan massal akan meningkat pada tahun 2023 lebih dari 19%. 

Baca Juga: 4 Kunci Sukses Dalam Peluang Usaha Waralaba

Globalisasi Terganggu

globalisasi
image by: pexels

Berbagai pihak telah mengupayakan usahanya sebaik mungkin untuk mengembalikan arus globalisasi pada tahun 2023. Perang dagang dan teknologi terus dilakukan oleh Amerika Serikat dan China. 

Pada bulan Agustus 2022, Joe Biden telah menandatangani CHIPS dan Science Act yang mengakibatkan ekspor chip dan peralatan manufaktur ke China di blokir. Hal ini akan menyebabkan perkembangan industri semikonduktor China akan terhambat seiring dengan menguatnya swasembada pembuatan chip.

Baca Juga: APEC: Apa itu, Tujuan, dan Manfaatnya

Penandatanganan kesepakatan tersebut disesalkan oleh berbagai pihak seperti Morris Chang, pendiri Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan. Perusahaan ini adalah perusahaan produsen chip terbesar di dunia. 

Tziamalis menyatakan bahwa perang secara langsung atas Taiwan tidak mungkin untuk terjadi dan negara barat (terutama AS) akan terancam oleh lintasan ekonomi China. Hal tersebut tentunya berdampak pada kemungkinan harga impor barang yang lebih mahal dan pertumbuhan yang lebih lambat bagi negara yang terlibat dalam perang dagang ini.

Artikel ini ditulis oleh: Faisal Tegar Febrian

Sumber/Referensi: 

https://www.aljazeera.com/economy/2022/12/28/inflation-to-china-economic-trends-to-watch-in-2023

https://www.voanews.com/a/world-economic-outlook-for-2023-increasingly-gloomy-/6850942.html

https://www.cnbcindonesia.com/news/20221228192930-4-401001/5-ramalan-ekonomi-2023-resesi-sampai-bangkrut-massal

× Customer Service